Minggu, 24 Desember 2017

Mas Ton Lingkar



Mas Ton Lingkar


Mas Ton Lingkar
Sutradara

Teater Lingkar mengajarkan nilai-nilai kehidupan

Nama lengkap sutradara Teater Lingkar ini adalah Suhartono Padmo Sumarto. Di lingkungan tempat tinggalnya, di Perumahan Kini Jaya Semarang, para tetangganya sering memanggilnya dengan nama pak Hartono. Tapi warga Semarang lebih mengenalnya sebagai Mas Ton Lingkar. Nama aslinya (Suhartono Padmosoemarto) justru banyak yang belum tahu.

Teater Lingkar didirikan Mas Ton pada 4 Maret 1980 di Jl. Genuk Krajan II/9 Tegal Wareng, Semarang. Pada saat didirikan hampir 100 orang mendaftar menjadi anggota. Dari 100 orang itu kemudian jumlahnya menyusut/ berkurang. Jumlah anggota sempat naik turun karena di samping ada anggota keluar, ada juga orang baru yang masuk mendaftar. Di antara mereka masuk di teater itu ada yang terdorong keinginan menjadi seorang bintang yang terkenal.

“Anda salah, saya bilang gitu. Kalau anda masuk ke teater hanya ingin terekspos menjadi orang terkenal itu salah. Kepopuleran itu akan secara otomatis menyertai anda bilamana anda mempunyai prestasi. Maka tidak usah dikejar-kejar. Yang penting anda bermain baik, serius, optimal, bisa mengukir prestasi otomatis dengan sendirinya nama anda akan menjadi populer, akan menjadi terkenal. Kalau anda baru masuk sudah punya benak ingin terkenal, itu salah. Silakan keluar dari Teater Lingkar,” kata Mas Ton pada anggota teater yang dipimpinnya.

Semua anggota Teater Lingkar harus bisa menjadi seorang pemain yang baik, orang yang baik, dan orang yang mengerti tentang lingkungan. “Anggota yang tidak mempunyai misi semacam itu silakan keluar dari Teater Lingkar. Bukan di sini tempatnya,” imbuhnya.

Anggota Teater Lingkar sedang latihan di sanggar.



Adapun yang membuat anggota tetap bertahan di Teater Lingkar karena di jagat perteateran itu mereka diajarkan bagaimana supaya orang tidak semena-mena terhadap orang lain, karena mereka merasakan bagaimana kalau disakiti.

Tahun 1991 Teater Lingkar pindah ke Jl. Gemah Jaya, Perumahan Kini Jaya, Semarang. Anggotanya semakin beragam, ada pelajar, mahasiswa, pegawai, dan masyarakat umum, termasuk pengangguran. Anggotanya tidak tetap. Mereka bisa masuk dan keluar kapan saja. Meski anggotanya tidak tetap dan sebagian keluar masuk, tetapi Teater Lingkar tetap bisa berjalan karena mereka merasa bahwa menggeluti dunia teater itu adalah kehidupan. Mas Ton mengajarkan bagaimana bisa hidup dengan proses mengenal alam dan manusia. Di situ ada persoalan-persoalan krusial, persoalan-persoalan yang dihadapi manusia setiap harinya. Pengalaman menghadapi persoalan hidup itu tidak pernah didapatkan di bangku sekolah maupun di bangku kuliah.

Teater Lingkar memainkan lakon "Kamasutra" yang ditulis Giwing Purba.



Punya sikap
Salah satu yang menjadikan daya tarik anggota sehingga bisa kerasan di Teater Lingkar adalah di Teater Lingkar diajarkan bagaimana menjadi manusia yang punya sikap, selalu bersyukur, aja dumeh, dan aja rumangsa bisa. Menjadi pemain teater pada dasarnya bermain menjadi orang lain. Sehingga tepa selira itu akan selalu ada dalam jiwa pemain teater. Kadang seseorang yang belum berkeluarga harus memerankan sebagai bapak, ibu, kakek ataupun nenek. Dia harus bisa memerankan peran itu sesuai karakter masing-masing tokoh yang diperankan. Kalau secara penjiwaan sudah gagal, maka pementasan yang dilakukan di atas panggung akan menjadi pementasan yang kurang enak ditonton.

Menurut Mas Ton, menjadi peran antagonis atau peran apa saja itu harus bisa. Memerankan seorang penjahat, dia tidak harus menjadi seorang penjahat. Latihan teater itu tidak harus langsung melakukan adegan. Tapi bisa lebih dulu mengamati, membaca, dan melihat, itu sudah bisa menjadi referensi pemain untuk masuk ke dalam peran sukma. Maaf misalnya seseorang harus memerankan perampok ataupun pelacur. Sebelum tampil di atas panggung apakah harus menjadi seorang perampok atau pelacur dulu? Kalau harus menjadi perampok atau pelacur dulu, itu salah. Sebelum tampil di atas panggung harus bisa mengamati bagaimana polah tingkah pelacur, bagaimana perampok itu, bisa dengan cara nonton film, nonton video, membaca, atau melihat langsung kejadian. Observasi semacam itu akan menjadi aset di dalam benak pemain untuk diekspos pada saat tampil di atas panggung atau pentas.

Bapak tiga orang anak ini menuturkan, kesuksesan sebuah teater itu tidak diukur dari laku dijual apa tidak. Tapi diukur dari laku dinikmati apa tidak. Karena teater bukan barang dagangan, tapi sebuah pembelajaran untuk hidup. “Jadi selama kita hidup kita harus mengenal tentang perteateran. Sehingga saya dan teman-teman Teater Lingkar tidak pernah mengatakan bahwa saya katam di dalam jagat perteateran. Selama saya masih hidup saya akan terus menggeluti teater. Karena teater itu mengajarkan tentang nilai-nilai kehidupan,” jelasnya.

Pentas Teater Lingkar di Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta membawakan naskah “Tuk” yang disutradarai Mas Ton. Skenario ditulis Bambang Widoyono. Tiket dijual Rp. 15.000,00.



Prestasi
Banyak anggota Teater Lingkar yang sudah mengukir prestasi yang membanggakan. Namun Mas Ton mengaku tidak berani menyebut. “Terlalu juwama. Biar masyarakat yang menilai. Yang jelas banyak teman-teman yang sukses di Teater Lingkar,” katanya.

Adegan lain lakon "Tuk" yang dimainkan Teater Lingkar.



Kado budaya
Ketika ditanya dana dari mana untuk membiayai setiap pementasan, Mas Ton menjawab dari Allah SWT. “Selama nawaitu kita untuk membangun nilai-nilai kebenaran sesuai dengan jalan Allah saya yakin Gusti Kang Murbaing Dumadi pasti paring tuntunan. Saya tidak pernah merasa tidak mampu di dalam hal srawung dengan teman-teman. Selama saya masih diberi kekuatan untuk hidup oleh Yang Kuasa insya Allah akan saya lanjutkan,” katanya.

Mas Ton pernah bekerja sebagai PNS di Kantor Gubernur Jawa Tengah. Tepatnya di Sekretariat Wilayah Daerah Jawa Tengah. Pensiun Desember 2010. Untuk membangun sanggar, beli kostum, transpot pemain, dekorasi, seting panggung, konsumsi dan lain-lain tidak jarang Mas Ton harus mengeluarkan dana pribadi dari koceknya, baik pada saat masih bekerja maupun setelah pensiun. Seberapa banyakkah? Menurutnya, semua itu tidak bisa diukur dengan seberapa banyak. Tapi diukurnya dengan keikhlasan. Selama memberinya dengan rasa ikhlas itu tidak ada yang hilang. “Sangune ikhlas, mas. Tanpa pamrih. Itu tidak ada yang hilang. Malah akan tumbuh. Ibarat kita menyebar benih, kita pupuk, kita siram, akan tumbuh. Seperti orang menanam padi, dari sekian kilo benih padi, setelah panen menjadi sekian ton,” katanya.

Setiap pementasan sudah ada tim menejemen yang mencarikan sponsor dengan cara menjual tiket. Tapi ada juga program-program Teater Lingkar yang sifatnya sedekah. Artinya Teater Lingkar pentas tanpa bayaran. Ini biasa dilakukan pada saat mendekati ataupun pada saat ulang tahun Teater Lingkar. Istilahnya Kado Budaya. Pentas ulang tahun Teater Lingkar dikemas dalam program Kado Budaya.

Waktu mendirikan teater, Mas Ton sudah berkeluarga. Alhamdulillah sampai saat ini keluarga masih tetap mendukungnya, karena keluarganya juga mengerti manfaat dari jagat perteateran. Selama ini ia tidak pernah merasakan rumah-tangganya terguncang karena berkesenian. (an).


Biodata








Nama lengkap : Suhartono Padmosoemarto.



Nama panggilan : Mas Ton Lingkar.




Tempat, tgl. lahir : Semarang, 26 November 1954.


Istri
: Widiana Retno Dwiwati (ibu rumah tangga yang hobi melukis).
Anak
: 1. Ario Bimo Gesit Widiharto





2. Dhananjaya Gesit Widiharto





3. Sindhunata Gesit Widiharto


Penghargaan : 1. Sutradara terbaik tingkat Jateng tahun 1985 





dalam pementasan naskah “Was was” tulisan Prie GS.



2. Penghargaan dari MURI atas prestasi menyelenggarakan 




pagelaran wayang kulit  setiap malam Jum’at yang ke 200 kali.























Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Erick Thohir

  Menteri BUMN (2019-2024)   Dari Media, Olah Raga sampai Sarinah Ditulis Muhammad Anwari SN. Saat ini Erick Thohir masih menjabat Menteri B...